Selasa, 19 Februari 2013

HOW TO "MOVE ON"??


Besok perkuliahan semester baru teryata sudah dimulai. Liburan selama tiga minggu (Alhamdulillah) berakhir juga. Meskipun liburan tiga minggu, aku hanya menggunakan liburan dua minggu di rumah, sisanya satu minggu terakhir di Yogyakarta.  Barangkali ada yang belum tahu kalau aku kuliahnya di Yogyakarta. Wah, orangnya gag terkenal ya mbak?? #emang!!
Gag seperti dulu pas masih di bangku SD, MTs, MA yang hampir tiap kelas baru terus beli buku baru, kali udah kuliah lebih memanfaatkan apa yang masih ada. Buku yang masih sisa banyak, dipakai lagi. #ngirit bang..
     Iseng-iseng buka-buka buku lama, aku menemukan buku lama ku pas dulu masih di asrama. Jadi teringat dulu sekamar tidur ber-tujuh, belajar malem-malem. Dan ini salah satu catatan belajar di sela-sela jam istirahat  : 
Bersama sahabat semangat berlipat jadi sekoper

     1. Ikhlas
   Mengikhlaskan diri atas kesalahan yang pernah terjadi pada diri kita. Artinya, mencoba sekuat tenaga untuk memaafkan diri sendiri apapun akibat yang ditimbulkan kesalahan itu.  Yakinkan diri kita bahwa “NO BODY PERFECT”. Beban atas kesalahn itu berangsur-angsur akan berkurang pada diri kita. (Sulit melupakan masa lalu). 
      2.     Tampil Percaya Diri
Mulailah dengan menyatukan hati dan perbuatan. Artinya jika hati kita menginginkan sesuatu, maka turutilah dengan action yang mendukung. Kompromikan antara hati dan perbuatan. Kenali diri kita. Cari kelebihan dan kekurangan kita. Lakukan sebanyak mungkin apa saja yang menjadi kelebihan kita., kemudian tingkatkan dengan membenahi kekurangan kita. Yakinlah bahwa kita bisa berubah kearah yang lebih baik. Tancapkan terus tekad itu didalam relung hati. “AKU BISA”.
Sebenarnya orang yang paling ampuh untuk memotivasi seseorang adalah dirinya sendiri. Sehebat apapun orang-orang disekitarnya, sebaik apapun nasihat kalau orang tersebut tidak mau mencoba untuk membuka hatinya, maka hanya sia-sia lah yang terjadi. Maka benarlah jika kita memang harus benar-benar mampu mengenali diri kita sendiri terlebih dahulu dan berikan harapan kita hanya kepada Allah.
Semoga bermanfaat…

Rabu, 23 Januari 2013

LILIN


Dalam sebuah kesempatan, siang itu bersama dua orang rekan berjalan dengan membawa beberapa lembar kertas berjalan menuju lantai dua fakultas dan mengarahkan langkah kaki ke ruang paling pojok, ruang dosen. Sedikit melongokkan kepala, sambil berharap dosen yang dicari ada di ruangannya. Ternyata beliau belum hadir. Ya sudah. Karena saat itu kami benar-benar membutuhkan bimbingan, diputuskan untuk meminta saran dan bimbingan dengan dosen yang duduk diseberang meja beliau.
Assalamu’alaikum…

Obrolan kami dengan beliau terus berlanjut…
Kalian itu jangan pernah mau terus-menerus menjadi lilin, hidupnya menyenangkan orang lain sampai-sampai tidak menyadari kalau dirinya sendiri telah habis terbakar. Kalau kalian terus berpikir seperti itu, kapan kalian akan berkembang? Yang bagus itu, orang lain berkembang dan kalian harus jauh lebih berkembang dari mereka. Egois itu perlu. Kalau kalian berpikir seperti ini terus, hidup kalian akan habis dan kalian akan tenggelam.

Siang itu, kami keluar dari ruang dosen saling diam. Hanya ada pembicaraan dengan diri kita masing-masing. Wejangan beliau sungguh mengena. Terimakasih, semoga bermanfaat, an our inspired lecturer.

Rabu, 29 Agustus 2012

Mengapa Anda Seperti Ini??

Hawa panas kota Yogyakarta masih seperti biasanya. Masih dengan langit yang sama di kota yang sama. Terdiam dengan tatapan keluar jendela kaca mobil tapi tidak tahu apa yang menjadi fokus penglihatan saya. Rekan saya yang duduk disebelah juga hanya diam membisu. Sama-sama tidak memiliki bahan pembicaraan. Kali ini yang terdengar hanya deru mesin mobil. Perjalanan sudah berlalu dua puluh menit. Kita akan menuju bandara Internasional Adisucipto. Menjemput seorang rekan dari Pontianak.
Melaju melewati jalan-jalan protokol dengan kecepatan tinggi dan hanya sedikit menurunkan kecepatan karena padatnya arus lalu lintas. Sesekali mobil berhenti ketika lampu merah. Terkadang saya hanya berdecak sendiri, memperhatikan traffic light itu. Lampu merah menyala 100 detik tapi lampu hijau sebagai tanda bahwa kendaraan boleh melintas, hanya menyala sekitar 24 detik. Pantas saja kendaraan menumpuk dijalanan dan menimbulkan barisan panjang ketika lampu merah.
Untunglah didalam mobil tidak sepanas diluaran sana. Sekalipun panasnya bukan main, nampaknya tak menyurutkan semangat beberapa orang diluaran sana. Penjual koran dengan telaten menawarkan koran dagangannya pada setiap pengendara motor maupun mobil. Dengan penuh harapan akan ada yang membeli dagangannya itu. 
Tiba-tiba perhatian kami teralihkan ketika seorang banci (saya juga tidak tahu apakah dia waria juga atau tidak) datang menghampiri mobil kami sambil memainkan kecrekannya. Penampilannya nampak norak dengan kostum yang “tabrakan”. Tulang-tulang bahu dan iganya tampak terlihat jelas. Tubuhnya yang jangkung dan kurus tidak memberikan kesan banci tulen (maaf). Alisnya dipertegas dengan pensil coklat, eye shadow-nya berwarna ungu dengan sedikit blink-blink, polesan bluss on merah di pipinya dan lipstick merah tebal dibibirnya, riasan wajahnya menunjukkan seperti memaksakan kosmetik. (maklum). Banci itu memainkan kecrekennya sambil menyanyikan sebuah lagu. Saya tidak tahu lagu apa yang dia memainkan. Lirik dan nadanya kurang jelas. Baru sebentar saja dia menyanyikan “lagu”nya itu, pak sopir memberinya beberapa uang receh.
“lho, enak sekali dia. Baru menyanyikan lagu sebentar saja udah langsung dapet uang..” Saya mempertanyakan sikap pak sopir itu.
“bagi saya, orang seperti dia dan teman-temannya (yang sejenisnya) itu, orang yang paling sengasara didunia” jelas pak sopir.
“kok bisa pak?”
“lha gimana tidak? Mereka itu, laki-laki bukan, perempuan juga bukan. Tidak bisa menikmati hidup. Mereka mendekati laki-laki, merayu-rayu, tapi yang didekati malah merasa jijik. Mendekati wanita, yang didekati malah risih. Terus mau gimana lagi.”
Saya kembali diam. Iya ya. Kasihan juga. Bagimana dengan keluarga yang mereka tinggalkan. Mungkinkah kedua orang tua si “banci” tahu kalau dia berubaah menjadi seperti ini? Apakah dia tidak ingin menjalin hubungan normal sebagai manusia tulen dengan lawan jenisnya dan membangun rumah tangga? Sayangnya saya bukan orang yang bisa masuk kedalam pikirannya. Pengetahuan saya juga tidak banyak tentang mereka. Apapun yang terjadi pada diri mereka, entah karena merasa dia telah menemukan dirinya yang sejatinya adalah seperti itu atau karena ada hal lain yang memaksanya untuk menjadi seperti itu pastilah ada alasan yang kuat. Sekalipun saya juga tahu di Jogjakarta ada kompleks perkampungan/kelompok banci/waria yang sudah diakui. Mungkin itu cukup membantu (bagi mereka). Semoga cahaya bisa segera menerobos masuk kedalam hatinya dan mereka-mereka. (aamiin)
Hingga saya kembali tersadar bahwa kini traffic light sudah berubah menjadi hijau.

Minggu, 01 Juli 2012

IBU, AMBILKAN BULANNYA

Ambilkan bulan, bu
ambilkan bulan, bu
yang slalu bersinar di langit
Di langit bulan benderang
cah’yanya sampai ke bintang
Ambilkan bulan, bu
untuk menerangi
tidurku yang lelap di malam gelap

####
          Lagu yang merdu ya. Bahkan jadi salah satu lagu favorit anak-anak dulu sekitar awal-awal tahun 2000-an (termasuk saya). Tapi saya kurang tahu untuk saat ini apakah ini masih menjadi lagu favorit anak. Sebenarnya saya juga miris, merasa kasihan dengan perkembangan anak-anak saat ini. Telinga mereka sudah disuguhi dengan lagu-lagu orang dewasa yanag sama sekali tidak pas dengan kondisi mereka. Selain karena krisis lagu anak-anak, tetapi juga karena media massa seperti televise yang sangat jarang sekali menyuguhi lagu dan acara anak-anak serta peran orang tua dalam melindungi anak mereka pengaruh hal-hal budaya negative.
           Setelah segede ini, saya jadi kepikiran. Sadar gag sih dengan lagu itu. Ada yang janggal gag? Si anak bilang “ambilkan bulan bu” diulang-ulang, seakan-akan tuh anak memaksa-maksa ibunya buat ngambilin bulan. Si anak mikir gag sih kalo bulannya segede apa, bulan jaraknya juga bukan dari Jogjakarta-Surabaya, tapi jauuh disana di luar angkasa. Haiiihh…. Kalau si anak maksa-maksa ibunya buat ngelakuin hal sehebat itu tiap malem, durhaka enggag siih? Ckckckc..
        Trus ada lagi, “cah’yanya sampai ke bintang”. Haaa?? Gag kebalik tuh? Bukannya cahaya bintang sampai ke bulan? Trus barulah sinar (sebagai sinar hasil pantulan) bulan sampai ke bumi. Apakah ini menanamkan konsepsi yang salah? Padahal lagu ini begitu popular dikalangan anak-anak. Iya kalau pada akhirnya mereka bisa sadar, lha kalau enggag?? Gimana coba??
Huftt.. renungan buat saya sendiri..


Jumat, 25 Mei 2012

BARA


. . . . . . .
Akhirnya bertemu disini
Makian berdengung keras
Sahut menyahut melontarkan cacian
Menghujani seluruh ruang vakum yang ada dalam kepala
Amarah bergejolak  seakan sepersekian detik lagi akan meledak
Darah terasa menggelegak semakin menjadi-jadi
Apa yang ada dihadapan mata ini rasanya seperti menampar wajahnya
Memberikan pukulan telak
Sekalipun apa yang ada sudah di sadari sejak awal
Dan wanita ini sudah memperkirakan apa yang akan terjadi
Tapi tetap saja ada sesuatu yang tak sepenuhnya diterima
Dunia yang menggelikan
Bila akan meledak, maka biarkan saja ia meledak
Biar ia merasakan betapa tersiksa hidupnya atas semua ini
Kemilau sinar perak memancing perhatiannya
Terlintas kini atas apa yang selama ini menjadi satu-satunya keinginan besarnya
Seakan terjebak  dalam medan magnet
Berjalan melenggang menghampirinya
Pisau
. . . . . . .
. . . . . . .
Dan sekarang semua tahu
Seringainya
. . . . . . .
Bunuh 
. . . . . . .

Senin, 21 Mei 2012

DAMAI


Dengarkan tanah
Dengarkan air
Dengarkan angin
Dengarkan hakikat alam
Aku duduk termenung dalam kebisingan
Berpikir dalam diam
Mengagumi bentangan alam yang tak pudar sekalipun kebisingan mengusik
Terlalu megah untuk di renungkan
Terlalu bodoh untuk melewatkannya
Menikmati limpahan kasih-Mu
Ku rasakan jiwa ku larut dalam damai
Terlalu indah untuk dinikmati sendiri

Arak-arakan mendung yang menggantung dalam kepasrahan
Nampak ujungnya terbakar karena berkas mentari sore hari
Akankah yang hilang akan  muncul kembali??
Seperti air mengelana
Kemudian hadir kembali bersama kesejukan
Harapku..